Jakarta — Lebih dari satu dekade, Sri Mulyawati menapaki dunia kecantikan, wellness, dan jejaring bisnis. Ia bukan sekadar membangun usaha, tetapi juga menenun relasi—bahkan membawanya berkeliling ke berbagai negara sebagai pengusaha. Dari perjalanan panjang itulah tumbuh satu keyakinan yang kini menjadi kompas hidupnya: kemandirian perempuan bukan slogan, melainkan buah dari keterampilan nyata yang bisa dipraktikkan.
Perempuan yang akrab disapa Achi ini kemudian memantapkan langkah di dunia organisasi. Ia menerima amanah sebagai Ketua Pelaksana Tugas (Plt) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kabupaten Kepulauan Seribu. Bagi Achi, organisasi bukan sekadar struktur kepengurusan atau rapat-rapat formal, melainkan ruang bertumbuh, tempat perempuan saling menguatkan, belajar, dan perlahan mengubah nasib keluarga lewat usaha yang digeluti dengan serius.

Pengalamannya memimpin komunitas pelaku jasa kecantikan di Jakarta menjadi bekal penting. Dalam program kerja 100 hari, ia mendorong pelatihan, penguatan keterampilan, hingga perluasan jejaring usaha. Salah satu momen yang masih segar diingat adalah beauty class hasil kolaborasi dengan PT Viva Kosmetik Indonesia pada peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2025. Bagi Achi, kegiatan itu bukan sekadar kelas kecantikan, tetapi simbol bahwa pengetahuan dan keterampilan bisa menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi.
“Kalau perempuan punya skill, dia punya daya tawar. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarganya, ” ujarnya, suatu Sabtu di kediamannya di Tanjung Priok, Jakarta, pagi 14 Februari 2026.
Visinya terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa panjang: melihat semakin banyak perempuan Indonesia—khususnya di Jakarta dan Kepulauan Seribu—berdiri di atas kaki sendiri. Dari ruang-ruang pelatihan kecil, dari kelas-kelas kecantikan, hingga ke jejaring usaha yang kian luas, Achi ingin menjahit satu per satu mimpi itu menjadi kenyataan.
Pada Jumat sore, 13 Februari 2026, Sri Mulyawati resmi menerima amanah sebagai Ketua Plt IWAPI Kabupaten Kepulauan Seribu. Amanah itu bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang tanggung jawab memperluas harapan—agar lebih banyak perempuan berani melangkah, belajar, dan mandiri lewat usaha yang mereka bangun sendiri.
Selamat kepada Sri Mulyawati. Semoga amanah dalam mengemban tugas, diberi kekuatan untuk terus menyalakan semangat, dan konsisten menjahit harapan perempuan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat.
(Lindafang)
